Lebanon dan Israel Teken Rancangan Kesepakatan Damai: Apa yang Dimaksudkan?
Oleh Redaksi Berita Hari

Ringkasan Berita
- •Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan kerangka kerja
- •Perjanjian ini merupakan langkah awal menuju perdamaian dan keamanan di antara Israel dan Lebanon
- •Hizbullah harus memutuskan apakah mereka akan setuju untuk menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan
Pada hari Jumat, 26 Juni, Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan kerangka kerja setelah beberapa hari negosiasi yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS). Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa perjanjian ini akan menjadi fondasi untuk upaya perdamaian dan keamanan antara kedua negara.
Dalam perjanjian ini, Lebanon dan Israel sama-sama menegaskan hak masing-masing untuk hidup damai dan menyatakan keinginan bersama untuk hidup dengan aman sebagai negara berdaulat yang bertetangga. Dokumen tersebut secara khusus mencatat 'penghentian semua tindakan permusuhan atau tindakan merugikan di forum politik atau hukum internasional antara Israel dan Lebanon. Kedua negara juga berjanji untuk berupaya membebaskan para tahanan serta mengembalikan jenazah korban.
Perjanjian ini muncul di tengah aksi saling gempur yang terus berlangsung antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, meski ada gencatan senjata yang berlaku. Lebanon terseret dalam perang Timur Tengah usai Hizbullah meluncurkan roket ke Israel sebagai balas atas serangan AS-Israel ke Iran. Hizbullah sendiri tidak ikut serta dalam perundingan, dan belum jelas apakah mereka akan setuju untuk menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan.
Dalam keseluruhan, ada 14 poin yang disoroti dalam perjanjian tersebut. Perjanjian ini tak menyebutkan hal-hal yang bisa mencegah kemauan setiap negara untuk membela diri. Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) akan memulihkan otoritas kedaulatan atas seluruh wilayah negara hingga pelucutan senjata kelompok bersenjata non-negara yang telah diverifikasi.
Dengan demikian, perjanjian ini dapat dianggap sebagai langkah awal menuju perdamaian dan keamanan di antara Israel dan Lebanon. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan bahwa AS dengan senang hati mengumumkan perjanjian kerangka kerja antara Lebanon dan Israel. Perjanjian ini mungkin dapat membantu mengakhiri pertempuran di Lebanon dan menemukan jalan keluar dari konflik yang telah berlangsung lama.
Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh kedua negara untuk mencapai keamanan dan perdamaian yang lebih stabil. Hizbullah harus memutuskan apakah mereka akan setuju untuk menarik pasukannya dari wilayah Lebanon selatan. Selain itu, perjanjian ini juga harus diimplementasikan oleh kedua negara dengan efektif untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Dalam kesimpulan, perjanjian kerangka kerja antara Israel dan Lebanon menandai awal yang baik menuju perdamaian dan keamanan di antara kedua negara. Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi oleh kedua negara untuk mencapai keamanan dan perdamaian yang lebih stabil.


