Kenapa Kita Digigit Nyamuk Tapi Orang Lain Tidak? Ini Alasannya!
Oleh Redaksi Berita Hari

Ringkasan Berita
- •Karbon dioksida
- •Bau tubuh
- •Panas tubuh
- •Warna kulit
Ketika kita pernah merasa menjadi sasaran nyamuk yang paling sering digigit, sementara orang di sebelah kita nyaris tidak pernah digigit sama sekali. Mungkin kita bertanya-tanya, apa yang membuat kita menjadi sasaran nyamuk yang paling mudah? Bahkan, mungkin kita berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan tubuh kita. Namun, sebenarnya, ada beberapa alasan yang bisa menjelaskan mengapa kita digigit nyamuk tapi orang lain tidak.
Menurut berbagai penelitian, sebagian orang memang lebih mudah menarik perhatian nyamuk dibandingkan yang lain. Nyamuk betina menggunakan berbagai petunjuk untuk menemukan mangsa, seperti bau tubuh, panas, hingga karbon dioksida yang kita keluarkan saat bernapas. Mereka tidak memilih mangsa secara acak, tetapi menggunakan kombinasi dari beberapa faktor tersebut untuk menemukan target yang paling menarik.
Salah satu alasan mengapa kita digigit nyamuk tapi orang lain tidak adalah karena karbon dioksida yang kita keluarkan. Setiap kali kita bernapas, tubuh kita mengeluarkan karbon dioksida, yang menjadi salah satu 'penanda' utama yang membantu nyamuk menemukan manusia. Orang yang mengeluarkan lebih banyak karbon dioksida, seperti karena bertubuh besar atau baru berolahraga, biasanya lebih mudah dideteksi nyamuk.
Selain karbon dioksida, nyamuk juga menggunakan bau tubuh kita untuk menemukan mangsa. Keringat kita mengandung berbagai zat alami, seperti asam laktat, amonia, dan senyawa lainnya. Kombinasi zat tersebut berbeda pada setiap orang, sehingga aroma tubuh kita yang dihasilkan juga tidak sama. Pada sebagian orang, aroma tubuh ini ternyata lebih menarik bagi nyamuk.
Bahkan, nyamuk juga mampu mendeteksi panas tubuh kita. Setelah berolahraga, saat demam, atau ketika suhu tubuh kita meningkat, kita bisa menjadi sasaran nyamuk karena tubuh kita memancarkan lebih banyak panas dibandingkan orang lain. Beberapa penelitian menemukan bahwa nyamuk lebih menyukai orang dengan golongan darah O dibandingkan golongan darah A. Meski alasannya belum sepenuhnya dipahami, faktor genetik diduga berperan besar dalam menentukan ketertarikan nyamuk terhadap seseorang.
Selain itu, kulit kita juga dihuni oleh jutaan bakteri baik yang membantu memecah keringat dan menghasilkan aroma khas tubuh. Komposisi bakteri kulit yang berbeda-beda membuat sebagian orang lebih menarik bagi nyamuk dibandingkan yang lain. Bahkan, warna kulit kita juga bisa mempengaruhi kemungkinan kita digigit nyamuk. Warna hitam, merah tua, dan oranye lebih mudah menarik perhatian nyamuk dibandingkan warna terang seperti putih, biru muda, atau hijau muda.
Oleh karena itu, kita harus lebih berhati-hati dalam mengurangi risiko gigitan nyamuk. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah menggunakan pakaian berlengan panjang saat berada di luar rumah, terutama pada pagi dan menjelang malam ketika nyamuk paling aktif. Pilih pakaian berwarna terang, gunakan losion antinyamuk, dan segera mandi setelah berolahraga untuk mengurangi keringat yang menempel di kulit. Pastikan lingkungan rumah bebas dari genangan air karena tempat tersebut menjadi lokasi favorit nyamuk berkembang biak.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan dan melindungi diri dari gigitan nyamuk, kita bisa mengurangi risiko terkena penyakit yang ditularkan nyamuk, seperti demam berdarah, malaria, maupun chikungunya. Jadi, sekarang kita tahu bahwa ada beberapa alasan mengapa kita digigit nyamuk tapi orang lain tidak. Semoga dengan penjelasan ini, kita bisa lebih waspada dalam menghadapi gigitan nyamuk.


