Amerika Serikat dan China Bertemu di Sela KTT ASEAN saat Timur Tengah Panas
Oleh Redaksi Berita Hari

Ringkasan Berita
- •Pertemuan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela KTT ASEAN di Manila, Filipina
- •KTT ASEAN berlangsung saat Amerika Serikat berperang dengan Iran, sekutu dekat China
- •Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyampaikan kekhawatiran terkait ketegangan di Timur Tengah
Pertemuan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di sela konferensi tingkat tinggi (KTT) ASEAN di Manila, Filipina, pada hari ini, Rabu (22/7), membuka kemungkinan adanya diskusi tentang situasi yang semakin panas di Timur Tengah dan Laut China Selatan.
KTT ASEAN ini berlangsung saat Amerika Serikat berperang dengan Iran, sekutu dekat China. Pertemuan kedua menlu itu dan KTT ASEAN ini juga dihadiri oleh para Menlu ASEAN. Mereka membahas tentang kekhawatiran masing-masing negara terkait situasi di Timur Tengah dan Laut China Selatan.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio tak berbicara apapun ke media saat memasuki ruang pertemuan. Namun, ia menyampaikan kekhawatiran terkait ketegangan di Timur Tengah. Menurutnya, Iran tidak serius dalam berunding dan jika mereka tidak serius, maka Amerika Serikat akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan negara dan sekutunya.
Rubio menekankan bahwa Iran tidak boleh dibiarkan mengendalikan Selat Hormuz, karena bisa menjadi preseden berbahaya bagi dunia, termasuk Asia Tenggara. Selain itu, ia juga menekankan bahwa jika perairan Laut China Selatan jatuh di bawah kendali kekuatan yang bersedia menggunakan perdagangan sebagai senjata geopolitik, maka Amerika Serikat dan negara-negara ASEAN akan menghadapi ancaman baru terhadap kedaulatan, keamanan, dan masa depan ekonomi mereka.
Pertemuan Rubio dan Wang Yi juga terjadi usai media Filipina merilis opini Menlu AS itu yang menyebut Asia Tenggara menghadapi ancaman baru dan koersif di Laut China Selatan. China mengeklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan melalui nine dash line yang memotong zona ekonomi eksklusif sejumlah negara Asia Tenggara.
China juga mengklaim sejumlah gugusan pulau dan karang seperti Kepulauan Spratly, Kepulauan Paracel, Kepulauan Pratas, serta Macclesfield Bank sebagai bagian dari yurisdiksinya. Namun, wilayah-wilayah tersebut juga diklaim beberapa negara Asia Tenggara, seperti Brunei, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. Selain itu, China kerap berselisih dengan coast guard Filipina dan memicu saling menyalahkan atau melontar kecaman.
Pertemuan kedua menlu ini dan KTT ASEAN ini diharapkan dapat membuka kemungkinan adanya diskusi tentang situasi yang semakin panas di Timur Tengah dan Laut China Selatan. Namun, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat dan China mungkin tidak dapat mencapai kesepakatan yang efektif dalam membahas masalah ini.


